•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

SIAPA ABU NU’AIM AL-ISHFAHANY

Lahir di Ishfahan atau Ashbahan pada tahun 948 M atau 336 H dan meninggal pada tahun 1038 M atau 430 H. Dikenal sebagai sejarawan, ahli fiqih, aqidah, hadits, thibb Nabawi dan tasawwuf. Di antara kitab karangannya adalah Hilyatul-Auliya dalam 10 jilid, Dala’ilun-Nubuwwah, Tarikh Ashfahan 2 jilid, Mu’jamush-Shahabah 2 jilid, Asy-Syu’ara’, Ath-Thibb An-Nabawy dan beberapa judul kitab lain sebanyak 50 judul atau bahkan lebih. Namun banyak kitab-kitabnya yang hilang tak terlacak dan yang tersisa masih berupa makhthuthat tulisan tangan.

Dalam bidang pengobatan, Abu Nu’aim Al-Ishfahany atau Al-Ashbahany mengumpulkan sebanyak 905 hadits dalam kitab Ath-Thibb An-Nabawy, dan ini merupakan kitab pertama Thibb Nabawy yang lumayan tebal. Berbagai macam bidang pengobatan dihadirkan di sini, dari perkara-perkara yang umum dalam Thibb Nabawi hingga masalah yang dianggap remeh-temeh seperti masalah membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi, dari kaidah umum dalam pengobatan yang Ilahiyah, seperti Allahlah yang menjadikan penyakit dan Allah pula yang menurunkan obat baginya, hingga masalah herbal yang bagus dikonsumsi para lelaki. Kitab ini cukup tebal, terdiri dari 7 maqalat atau bab lalu dibagi lagi menjadi beberapa sub bab, sehingga memudahkan pembaca dalam memilih dan memahami berdasarkan tema masing-masing. Maka dengan sistimatika penyusunan tersebut, kitab ini menjadi rujukan bagi para praktisi Thibb Nabawi periode sesudahnya.

Dari sisi kajian ilmu hadits karena beliau juga seorang ahli hadits, beliau memenuhi standar ilmu riwayah dengan penggunaan kata akhbarana, haddatsana, anba’ana. Namun karena kedekatan beliau dengan ilmu tasawwuf, maka di dalam kitab ini juga dicantumkan hadits-hadits dha’if, maudhu’ dan bahkan hadits-hadits yang tidak ada rujukannya dan tidak terlacak, sebagaimana kebiasaan orang-orang sufi yang membolehkan hadits dha’if dalam perkara fhadha’ilul-a’mal.

Secara lengkap, kitab ini terdiri dari 905 hadits, terdiri dari 492 hadits shahih dan hasan, 247 hadits dha’if, 80 hadits maudhu’ dan sisanya merupakan hadits-hadits yang tidak memiliki rujukan dan tidak terlacak. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa cukup banyak hadits-hadits Nabawi tentang pengobatan yang derajatnya dha’if, maudhu’ dan bahkan la ashla lahu. Karena itulah setiap praktisi Thibb Nabawi dituntut untuk kembali kepada Sunnah Nabawiyah berdasarkan kajian hadits, namun juga harus mengetahui derajat hadits dan makna hadits secara mendetail, agar tidak terseret kepada kejahilan.