•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

EMANG PENDERITA DIABETES MELLITUS BOLEH DIBEKAM?

Banyak pasien atau calon pasien yang yang bertanya-tanya, emang penderita gula darah atau diabetes mellitus atau hiperglikemia boleh dibekam? Khan dalam bekam ada pelukaan? Khan bisa menimbulkan luka yang tidak sembuh? Khan bisa borokan lukanya? Dan masih banyak khan khan lainnya. Bahkan tak sedikit pula pembekam yanng berasumsi seperti itu bahwa penderita DM tidak boleh dibekam.

Mundur ke belakang, sekitar tahun 2003, ana kedatangan tamu istimewa, seorang ustadz ana dulu yang mengajar saat di pondok. Ana sangat ingat beliau mengajar Tarikh Islam. Beliau sangat lembut, bicaranya halus, bahkan ana mengatakan beliau terlalu lembut untuk laki-laki. Beliau datanng setelah mendapat info ana membuka layanan bekam. Beliau sudah menderita sakit sejak 30 tahun. Diabetes mellitus. Bahkan pernah kada gulanya sampai 600. Dan di telapak kaki beliau selalu ada luka menganga sehingga beliau tidak pernah memakai sepatu.

Kami pun berbincang-bincang. Gayeng, antara murid dan guru, setelah 30 thn tak bersua. Beliau ingin sembuh dari penyakitnya itu. Beliau juga sudah tahu tentang layanan bekam yang ana lakukan. Beliau juga sudah tahu metode ana dengan torehan. Kebetulan karena taqdir Allah, maka kami dipertemukan. Ana sampaikan apa adanya bahwa ana belum pernah membekam penderita diebetes dengan kadar yang tunggu seperti yang antum alami. Dan memang benar, saat itu kami masih melakukan berbagai macam percobaan dan eksperimen bekam. Sekali lagi kebetulan. Pucuk dicinta ulam tiba.

Hayo Ustadz kita buat tajribah. Dan antum sebagai kelinci percobaannya. Kata ana ke beliau.

Siap. Katanya.

Tapi ana belum pernah membekam pemilik pabrik gula seperti antum lo Tadz...?!!! kata ana.

Tak masalah. Ana yakin ke antum. Kata beliau.

Maka kami pun “nekad”. Membuat eksperimen.

Tentu saja SOP bekam yang ana berlakukan kepada beliau berbeda denngan kasus-kasus biasa lainnya. Maka kami lakukan bekam. Dag dig dug juga. Jangan-jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apa yang kemudian terjadi.

Seminggu kemudian ana menelpon beliau yang sudah pulang ke Ngawi. Ma syaa Allah dan alhammdulillah, semacam infeksi yang ana kuatirkan tidak pernah terjadi. Dan bekas torehan pun kembali normal seperti sedia kala, walau memang tidak secepat orang yang normal.

Orang yang sakit tentunya lebih membutuhkan pengobatan ketimbang oranng yanng tidak sakit. Lalu mengapa orang yang sakit gula darah justru tidak memiliki peluang untuk sembuh dari penyakitnya jika tidak diberi peluang untuk dibekam?

Tentu ada SOP khusus penanganan penderita DM denngan bekam. Tidak boleh sembaranngan. Maka bagi pembekam pemula sebaiknya tidak menanganinya, kecuali jika sudah magang di rumah bekam yang terstandar. Sebab kasus DM termasuk jenis kontraindikasi relatif dengan bekam.

Yanng perlu dicatat oleh para pembekam atau pasien, di Assabil tetap menggunakan sistem torehan walau terhadap pasien DM, bukan lancet. Yang paling penting dalam menangani pasien DM adalah penatalaksanaan alat-alat, sistem antisepsi dan tatalaksana penannganan luka yang baik. Jika tidak, tentu bisa menimbulkan infeksi.

Tidak ada salahnya bagi penderita DM dianjurkan mengkonsumsi herba-herba tertentu semacam mimba, sambiloto, rebusan daun salam dan lain sebagainya. Juga mengkonsumsi wijen.

Kathur Suhardi
CEO Assabil Holy Holistic Jakarta