•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

PENGALAMAN DIBULLY USTADZ NGANU

Ini bukan sekedar curhat, bukan baperan, bukan pula gantian membully. Khan ana tidak pernah menyebutkan nama seseorang. Tapi ini sekedar berbagi pengalaman bagaimana riak-riak mendakwahkan Thibb Nabawi, sehingga diharapkan ada pelajaran yang dipetik dari kisah ini. Sebab jika tidak diceritakan, tentu tidak ada ibrah yang dapat dibagi dan diambil darinya.
Kejadianya sekitar tahun 2005. Disebut sekitaran karena agak lupa-lupa tepatnya. Yang pasti saat itu khan masih sedikit yang menggeluti hijamah. Sehingga info tentang hijamah juga masih minim. Hanya orang-orang tertentu saja. Dunia medsos juga belum ada atau belum seheboh saat ini. sehingga info tentang hijamah juga masih sangat minim yang berpotensi dibolak-balik sedemikian rupa menurut versi masing-masing, bisa dipelintir sesukanya, termasuk info yang ndak bener-bener amat tentang hijamah.

Langsung masuk ke inti masalah. Ana pernah dibully oleh seorang ustadz yang cukup terkenal karena beliau aktif mengisi kajian di sebuah radio dan tv. Inget. Ndak boleh nyebut nama. Karena kalau ana sebut nama beliau, ana yakin antum pada tahu. Di antara pokok bully yang dimaksud, beliau menegaskan bahwa bekam yang sesuai Sunah adalah yang pakai jarum, bukan sayatan seperti yang dilakukan Kathur. Ngerti apa itu Kathur tentang hadits dan ilmu pengobatan bekam. Dia khan berprofesi sebagai penerjemah buku-buku Arab. Gitulah pokoknya.
Telusur punya telusur dan berdasarkan info dari seorang ikhwan, sebut saja Fulan, muasal pernyataan ustadz tersebut, karena beliau biasa dibekam seorang ikhwan, yang bekamnya pakai lancet. Lalu ikhwan ini menjelaskan banyak hal tentang bekam. Secara otomatis hubungan di antara mereka pun menjadi dekat dan akrab karena sering bertemu. Di antara klaim penjelasanya bahwa bekam yang sesuai hadits Nabi adalah yang pakai lancet.

Sementara sejak tahun 2002 ana konsisten menggunakan pisau bedah dengan sistem syarthah mihjam sebagaimana yang disebutkan dalam matan hadits, alias torehan atau sayatan tipis yang disebut skarifikasi. Padahal kalau mau, beliau dengan sangat mudah dapat membuka kitab-kitab hadits dan kitab-kitab syarhnya, yang di sana secara gamblang disebutkan penjelasanya, juga dapat dikuatkan melalui pendekatan lughawi dalam kitab-kitab kamus.

Memang saat itu praktik bekam belum semarak saat ini. sehingga informasi yang disampaikan para pembekam yang sudah ada, mayoritas bersifat subyektif alias suka-suka sendiri. Hal serupa juga pernah ada dapati di sebuah pesantren tahfizh di Bogor. Mudir pesantren tersebut juga termakan penjelasan subyektif pembekam yang biasa membekam beliau bahwa bekam yang sesuai Sunah adalah yang menggunakan lancet alias jarum. Looo...? Setelah ana jelaskan matan haditsnya, beliau baru ngeh bahwa penjelasan sebelumnya hanya klaim subyektif.
Alhamdulillah setelah Fulan yang juga seorang alumni Assabil menjelaskan apa yang dilakukan seorang Kathur, yang aktif mengajarkan bekam, keliling Indonesia, juga menyampaikan penjelasan hadits bahwa yang sesuai matan hadits adalah yang menggunakan sistem syarthah, barulah beliau ngeh. Maka selanjutnya beliau tidak mau lagi dibekam dengan lancet dan selalu meminta bekam dengan syarthah. Karena beliau juga merasakan efek yang berbeda antara bekam lancet dan bekam syarthah. Alhamdulillah akhirnya beliau terbuka, sehingga kisah ini berakhir dengan happy end. Semua jadi senang.

Yang juga perlu dicatat, ana beralih dari dunia tulis-menulis ke dunia thibb juga tidak sembarang alih profesi. Tapi berdasarkan analisas SWOT. Di antaranya perlunya brand khusus yang kokoh. Kekohonan atau kekuatan (strenghts, pada huruf S) hanya berdasarkan acuan yang jelas. Maka apalagi yang lebih kokoh daripada Sunnah Nabawiyah? Maka jika praktik bekam saat itu semuanya menggunakan lancet, maka harus ada yang berbeda dengan kemarakan ini.

Istiqamah pada jalan dakwah thibbiyyah yang sejalan dengan Sunah kadang memang kudu sabar, kudu telaten, kudu menahan diri dari cemoohan, bully dan semacam itulah. Karena apa? Karena sebenarnya mereka belum tahu. Belum terbuka untuk menerima perbedaan. Belum siap untuk berubah. Dan mungkin belum terbiasa dengan iklim akademik yang senantiasa dihidupi dengan diskusi dan bertukar pendapat. Sebab sepertinya banyak para praktisi Thibb Nabawi dan khususnya bekam, yang mendapatkan keilmuanya secara simpel, secara mudah, tanpa proses pembelajaran yang memadai. Bahkan tidak jarang yang hanya modal baca buku, tengok status, lihat youtube, lalu mempraktikkanya. Tentu saja cara-cara ini sangat tidak standar. Bahkan pembelajaran bekam yang diselenggarakan LKP bekam pun belum tentu semuanya lengkap. Apalagi hanya sekedar “mencuri” dari medsos. Karena itulah Az-Zahrawy yang dikenal sebagai dokter bedah yang menjadi rujukan pertama para dokter Eropa sebelum abad pertengahan, seringkali merasa berang karena melihat ulah para dokter lain yang sembrono dan salah dalam berpraktik bekam dan mengatakan mereka sebagai dokter bodoh.

Semoga para praktisi Thibb Nabawi selalu tergerak untuk meningkatkan keilmuan mereka dalam bidang pengobatan agar tidak terkena warning dari Nabi: man tathabbaba wa lam yu’lam minhu thibb fahuwa dhamin. Barangsiapa yang mengobati padahal tidak dikenal memiliki ilmu pengobatan, maka dia harus bertanggung jawab atas perbuatanya. Karena itu dalam setiap pelatihan bekam, ana sampaikan kepada para peserta pelatihan, “Ana senang antum berada di ruangan pelatihan ini. Artinya dengan begitu antum sudah terbebas dari warning Nabawi di atas. Dengan kata lain, antum sudah punya riwayat pembelajaran.”

Semoga kisah ini memberikan inspirasi positif bagi kita semua.

Kathur Suhardi
CEO Assabil Holy Holistic Jakarta