•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

MENGAPA BEKAM DILAKUKAN SEMBARANGAN?

Saat ini praktik pengobatan semakin marak, khususnya bekam. Ini realita. Dilakukan dimana pun dan oleh siapa pun. Tanpa pandang bulu tanpa pandang usia tanpa pandang profesi tanpa pandang latar belakang keilmuan tanpa pandang waktu dan tempat dan dengan berbagai macam latar belakang alasannya. Seperti semut yang mengerubuti gula.
Di antara contohnya:

  1. Faktor tempat: Bekam dilakukan di pinggir jalan, di emperan toko, di kapal penyeberangan, di halaman masjid, di tempat yang tidak layak sebagai tempat pengobatan.
  2. Faktor alat: Gelas kop terbatas yang dipakai untuk beberapa pasien, menggunakan tanduk sapi yang menghambat proses sterilisasi, menggunakan silet cukur, jarum prentul, jarum jahit untuk pengeluaran darah.
  3. Faktor pembersih darah: Menggunakan tissu yang sangat mudah didapat/dibeli dan harga murah.
  4. Faktor praktis: Praktik bekam sangat mudah dilakukan, cukup hanya dengan mengekop kulit dan mengeluarkan darah darinya. Siapa pun yang punya modal keberanian bersinggungan dengan darah, punya peluang menjadi pembekam.
  5. Faktor medsos: Dengan adanya medsos yang mudah diakses, juga menjadi faktor munculnya para pembekam karena toh mereka dapat belajar dari sana, terutama youtube.
  6. Faktor interaksi: Seseorang yang sebelumnya belum pernah membekam lalu berpikir hendak menjadi pembekam, cukup datang kepada seorang pembekam, memperhatikan, mengamati, lalu mencobanya sendiri yang ternyata memang mudah, alatnya mudah didapat, pasang papan nama, jadilah seorang pembekam. Efek beruntun dalam hal ini juga sangat berpengaruh, karena alat, instrumen, perkakas dan perlengkapan yang dipakai orang pertama mudah didapat dan mudah dilakukan.
  7. Efek kemudahan alat: Alat dan instrumen bekam yang selama ini banyak digunakan para pembekam relatif sederhana, murah harganya, mudah didapat. Untuk proses cupping, alat kop dijual dimana-mana. Banyak dan murah. Alat pengeluaran darah menggunakan lancet juga mudah didapat dan terutama mudah operasionalisasinya, karena mayoritas pembekam menggunakan lancet ini.
  8. Faktor ekonomis: Dengan modal yang minim, kesempatan yang terbuka lebar dan berdasarkan pemikiran tanpa harus belajar, maka mulailah dilakukan nisbah keuntungan, yang ternyata memang sangat prospektif. Tentu ini kesempatan yang bagus dari sisi ekonomis sehingga dapat menjadi alternatif ma’isyah. Dalam dunia ekonomi tentu hal ini sangat lumrah.
  9. Faktor reliji: Karena bekam disabdakan dan diamalkan Rasulullah, yang berarti bekam merupakan bagian dari Sunnah, maka sensitifitas relijius ini pun dimainkan sedemikian rupa yang begitu mudah membius siapa pun. Apalagi dibumbui lagi dengan istilah-istilah pendukung lainnya, seperti mendakwahkan Sunnah Nabawi, menjaga Sunnah agar tidak punah, mengamalkan Sunnah bekam adalah berpahala, dan lain sebagainya.

Sebagai gambaran dan sekaligus keterangan foto pendukung, disebuah jalan menuju pasar Bekasi ada sebuah bilik ukuran 2 x 2.5 meter persegi. Dindingnya terbuat dari seng-seng bekas, kayu-kayu bekas dan atap bekas. Serba bekas karena tak jauh dari tempat itu ada tempat penjualan benda-benda bekasa tersebut. Bisa dibayangkan tentu murah harganya. Depan bilik ada saluran air kecil yang jika hujan tentu tergenang air dan becek. Karena itu di atasnya dipasangi papan-papan untuk lewat. Juga bekas. Rerumputan tumbuh di sekitarnya secara liar. Karena tutup, maka sulit mencari gambaran bagaimana situasi di dalam bilik. Artinya, penggambaran tentang bilik bekam ini masih jauh dari lengkap dan masih menyisakan banyak pertanyaan, seperti alat-alatnya, adakah sterilisator umpamanya, adakah rak instrumen, bagaimana dan dimana mencuci alat-alatnya, adakah tersedia hand sanitizer, hingga bagaimana cara membuang limbah bekam? Lebih jelasnya, apakah standar seperti itu terpenuhi jika melihat wujud bilik dari luarnya saja sudah sangat memelas dan mengundang iba belas kasih? Dan lebih luasnya lagi, apakah pemilik bekam yang membuka layanan bekam ini juga pernah belajar bekam?

Biarlah itu menjadi urusannya dan tanggung jawabnya. Toh bilik bekam ini khan hanya sekedar sebagai contoh dan penggambaran betapa mudahnya seseorang membuka praktik bekam.
Maka mari kita kembali ke judul di atas, mengapa bekam dilakukan sembarangan?

Sebagian analisis sudah disampaikan di atas. Belum semuanya. Tapi semoga sudah memberikan sedikit gambaran. Faktor pendorongnya bisa sebagian dan bisa semuanya saling melengkapi dan saling mendukung.

Tapi kalau boleh dirangkum, maka akan ketemu pada satu sebab dan latar belakang. Karena bekam ini bersifat aplikatif dan praktikal, maka sebabnya dapat dilihat dari faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik. Maka hal ini dapat difokuskan pada aspek alat pendukung praktik sesuai mekanisme bekam, yaitu mengekop kulit dan mengeluarkan darah. Alat kop dan prosesnya, siapa pun bisa melakukannya, termasuk anak kecil. Tak masalah. Tinggal satu lagi yaitu alat pengeluaran darah yang menggunakan lancet. Cara mendapatkannya juga sangat mudah. Tinggal datang ke toko penjual alat-alat kesehatan. Ada dan banyak stok. Lalu bagaimana operasionalisasinya? Juga sangat mudah. Lancet masukkan ke dalam lancing device setelah membuka tutup ujungnya, pasang lagi, atur kedalaman, ujung lancing device tempelkan ke permukaan kulit, ujungnya ditekan-tekan seperti menekan ballpoint, jadilah lancet akan menusuk-nusuk kulit, sehingga sambil merem pun bisa dilakukan. Mudah khan?

Faktor psikologis manusia akan memainkan pikiran dan kewarasannya untuk ikut andil dalam praktik bekam yang serba mudah dilakukan ini. Itu sangat lumrah dan wajar. Faktor psikologis karena kemudahan.

Sangat berbeda jauh sekiranya alat pengeluaran darah bekam menggunakan bisturi, yang operasionalisasinya tidak semudah menggunakan lancet yang sambil merem pun bisa dilakukan. Tentu calon pembekam akan berpikir sekian kali lipat tentang gagangnya, tentang cara pemasangannya, tentang posisinya, tentang arah torehannya, tentang cara menorehnya yang tepat dan ideal, tentang ketipisannya. Banyak fakor yang menyertainya. Secara psikologis dia akan berpikir beberapa kali untuk mempraktikkannya sehingga secara psikologis juga dia akan terdorong untuk belajar dan mengikuti pelatihan. Apalagi jika dia makin terdorong untuk tahu bahwa sebenarnya bekam toreh inilah yang sesuai dengan Sunnah Nabawi, sehingga secara psikologis pula dia akan terdorong lebih giat mengaji Sunnah. Di sini calon pembekam dan juga para pembekam juga akan teruji bagaimana niat awalnya jika ditilik dari aspek ekonomis. Asal tahu saja bahwa harga bisturi yang bagus dan ideal bisa sepuluh kali lipat lebih mahal dari harga lancet.

Dasar pemikiran tentang alat bekam yang mudah didapat, sederhana, murah dan serba praktis, mendorong calon pembekam dan bahkan para pembekam untuk memudahkan hal-hal yang berkait dengan bekam. Hal ini juga akan mendorongnya berpikir simpel dan mudah dalam hal penggunaan alat pembersih darah, yaitu cukup hanya dengan menggunakan tissu, tanpa harus berpikir yang serius bahwa dalam jangka panjang tissu yang bersentuhan dengan kulit yang terbuka dapat mengakibatkan kanker karena sifatnya yang carsinogenik.
Berarti mau tidak mau, suka tidak suka, faktor kemudahan alat bekam ini secara langsung atau tidak langsung sangat berpengaruh terhadap munculnya para pembekam sembarangan yang hanya bermodal keberanian. Minimal begitulah secara psikologis. Oya, sebagai tambahan gambaran praktik bekam yang sembarangan, praktik bekam di emper toko, pinggir jalan, saat ada pertujukan wayang kulit, di kapal penyebarangan, di pinggir alon-alon, semuanya menggunakan lancet untuk mengeluarkan darah.

Sudah saatnya bekam dikembalikan kepada Sunnah untuk melahirkan istilah Bekam Sunnah. Bekam Sunnah adalah bekam yang sesuai dengan Sunnah Nabawiyah dari pemahaman ilmu riwayah maupun dirayah.

Ini sebuah analisa yang boleh jadi subyketif. Berarti masih memungkinkan didiskusikan dan bahkan didebat. Tapi setidaknya analisa ini diharapkan dapat merangsang sebuah pemikiran kritis terhadap fenomena yang terjadi. Hal ini jauh lebih membuka wacana ketimbang tidak ada yang berani membuka wacana tapi realita di masyarakat terus berkembang dan nyaris tidak bisa dibendung. Realitas maraknya praktik bekam tanpa ilmu tanpa pembelajaran yang layak.