•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

DARAH FASHD DARI VENA DAN DONOR DARAH DARI ARTERI

Ana sangat tertarik dengan statemen dalam judul ini. Yang kemungkinan besar berasal dari praktisi fashd. Artinya, prediksi ini dikuatkan dengan statemen-stetemennya yang lain. Ketertarikan ana bukan pada kekeliruan dalam memahami sistem kardiovascular yang menjadi obyek utama fashd sehingga dikatakan bahwa donor darah berasal dari arteri. Tapi ana hanya heran, saking herannya sampai mlongo, bagaimana seseorang melakukan suatu tindakan pengobatan tapi dasar keilmuan yang fundamental dilewati begitu saja, sampai-sampai keluar statemen di atas.

Oya, ada yang terlupa. Stetemen ini muncul dari pernyataannya bahwa fashd dan donor darah berbeda, sebagai tanggapan atas statemen lain bahwa sebenarnya fashd itu sama dengan donoe darah. Kalau keduanya beda, dimana letak perbadaannya?

Sekali lagi ketertarikan ana bukan pada redaksi itu. Tapi bagaimana proses yang dilewati sehingga keluar stetement di atas? Kuncinya adalah belajar. Al-‘Ilm qabla al-‘amal. Ilmu dulu. Praktik kemudian. Jangan dibalik, hanya karena kelatahan opportunistic, selagi musim fashd. Jaman now mah mudah belajar. Gerakkan jari pencet-pencet keyboard. Keluar deh ilmunya lewat medsos.

Ok. Judulnya belajar.

Untuk mau belajar, salah satu kuncinya harus merasa tidak tahu. Kalau sudah merasa tahu, berabe. Bahkan mandeg. Stag. Yang lebih berabe jika seorang pembelajar terpapar virus la ya’rif wa la ya’rif annahu la ya’rif. Orang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dianya tidak tahu. Biasanya orang macam begini hanya punya ilmu ngeyel dan tidak mau mengakui dirinya. Boro-boro meminta maaf. Bagaimana kalau ketemu orang macam begini. Lanjutan pepatah ini fajtanibuh. Hindari. Jangan-jangan virusnya menular. Mestinya seorang pembelajar menempatkan dirinya pada posisi rajulun la ya’rif w ya’rif annahu la ya’rif. Orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dianya tidak tahu. Maka terhadap orang seperti ini, lanjutan pepatahnya, fa’allimhu. Ajari dia.

Belajar memang perlu enerji. Tak jarang perlu biaya. Perlu waktu. Perlu tenaga. Kudu mengorbankan aktifitas lain. Fokus. Kosentrasi tinggi. Konsisten. Melek malam. Berproses. Maka tidak ada ceritanya orang langsung berilmu tanpa belajar. Kudu lorolopo.

Karena itulah Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Wa man lam yadzuq dzullat-ta’allum sa’atan, tajarra’a dzullal-jahl thula hayatih.” Siapa yang tidak pernah mengalami sengsaranya mencari ilmu walau hanya sesaat, maka dia akan terkungkung dalam kebodohan selama hidupnya.
Karena itulah sering ana sampaikan di tiap kesempatan, khusus dalam bidang pengobatan, ada hadits perintah mencari ilmu pengobatan dan perlunya tanggung jawab. Tanggung jawab ilmiah, moral dan material ketika terjadi malpraktik. Karena itu pula Abu Nu’aim Al-Isfahany menempatkan hadits ini di bagian awal dari kitab karangan beliau Ath-Thibb An-Nabawy yang mengupas 904 hadits yang semuanya berkaitan dengan pengobatan.

Sekali lagi, ana tidak tertarik menyanggah statemen seperti judul di atas. Tapi ana cuma berpikir bagaimana seorang praktisi pengobatan tega-teganya mengeluarkan statemen di atas dan bagaimana proses keilmuan yang dilewatinya? Ilmu kita serba terbatas. Mengakui keterbatasan itu secara hakiki in syaa Allah sudah bagian dari ilmu.

KATHUR SUHARDI

CEO Assabil Group Jakarta