•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

BEKAM MEMBATALKAN PUASA! BENARKAH?

BEKAM MEMBATALKAN PUASA! BENARKAH?

(Bayan Majlis Syura PBI)

بسم الله الرحمن الرحيم

Muqddimah

Tidak sedikit kaum Muslimin yang kebingungan ketika hendak meminta hijamah atau bekam saat sedang melaksanakan puasa Ramadhan yang hukumnya wajib. Kebingungan ini disertai dengan rasa was-was, khawatir dan gambang. Karena jelas-jelas ada hadits shahih sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa orang yang membekam dan pasiennya harus membatalkan puasa. Begitulah yang beliau sabdakan kepada mereka berdua saat ke Baqi’ masuk hari ke 18 bulan Ramadhan. Mereka pun mendengar hadits ini bukan dari sembarang orang tapi dari sebagian ustadz yang dapat dipercaya keilmuannya.


Memang tidak dipungkiri bahwa itu hadits shahih. Tepatnya takhrij Abu Daud dari Tsauban dan Ibnu Majah dari Syaddad bin Aus, dishahihkan Syaikh Nashiruddin Al-Albany.

Mereka pun untuk meminta bekam saat bulan Ramadhan. Padahal tidak sedikit di antara mereka yang sudah terbiasa dibekam, entah karena hanya sekedar menjaga kebugaran, terlebih lagi mereka yang sudah rutin dibekam karena mengidap penyakit tertentu yang mengharuskan mereka rutin dibekam. Memang kegamangan ini selesai jika bekam dilakukan malam hari. Tapi masalahnya mereka merasa tidak memiliki waktu yang senggang untuk berbekam pada malam Ramadhan karena shalat tarawih dan mengaji Al-Qur’an. Di samping itu pembekamnya pun dihadapkan pada masalah yang sama pada malam Ramadhan.

Entah karena niat dan tujuan apa, Allahlah Yang Mahatahu, mengapa yang disampaikan kepada ummat hanya hadits Tsauban dan Syaddad bin Aus yang berisi sabda beliau di atas, padahal ada hadits lain dari Ibnu Abbas yang justru lebih kuat kedudukannya karena ditakhrij Al-Bukhary, yang menyatakan bahwa beliau pernah meminta bekam saat berpuasa? Di hadits ini ada bentuk aktiva “ihtajama” atau meminta hijamah dan bukan sekedar dibekam.

Tidak dipungkiri memang ada beberapa hadits yang terlihat muta’aridhain (saling bertentangan) antara satu dengan lainnya, yang kemudian dikumpulkan para ulama kita terdahulu, dijelaskan dan dicarikan cara pemahamannya yang tepat, sehingga yang tadinya tampak saling bertentangan menjadi jelas dan gamblang. Mereka menamakan hadits-hadits muta’aridhain ini dengan istilah mukhtalaful-hadits atau musykilul-hadits.

Berikut ini penjelasan tentang masalah bekam pada saat berpuasa, dalil masing-masing, apa pendapat di antara ulama dan thariqul-ijma’.

Perbedaan Pendapat di Antara Ulama

Ada sebagian orang berpendapat bahwa seseorang yang melakukan pengobatan bekam pada saat berpuasa, maka puasanya batal. Bahkan orang yang membekamnya pun juga harus membatalkan puasanya. Hal ini dilandaskan kepada hadits shahih yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhary, Kitab Bad’il-Wahyi, secara marfu’ dari Al-Hasan. Jadi keshahihannya tak perlu disangsikan, juga diriwayatkan Abu Daud, At-Tirmidzy, Ahmad bin Hambal dan dishahihkan Syaikh Nashiruddin Al-Albany.

Namun ada hadits lain yang diriwayatkan Al-Bukhary dan lain-lainnya yang juga shahih, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta bekam ketika beliau sedang melakukan ihram dan ketika sedang berpuasa, sehingga hadits ini menjadi pegangan sebagian ulama tentang tidak batalnya puasa karena hijamah.

Ada pula yang hanya sebatas memakruhkan, tidak melarang dan mengharamkan karena pertimbangan efek bekam yang dapat membuat tubuh menjadi lemah, seperti pendapat Imam Malik dan lain-lainnya.

Apakah kita harus berpegang kepada hadits pertama dan mengabaikan hadits kedua, atau sebaliknya. Bagaimana cara memahami dua hadits yang tampak saling bertentangan ini dan memadukannya?

Hadits Batalnya Puasa karena berbekam

 

Dalam hadits Tsaubah dan Syaddad bin Aus disebutkan kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamke Baqi’ setelah lewat tanggal 17 Ramadhan, yang berarti masuk hari kedelapan belas dari Ramadhan, yang di sana beliau melewati dua orang yang sedang membekam dan dibekam.

 

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ »

Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Orang yang membekam dan yang dibekam harus membatalkan puasanya". (Ditakhrij Abu Daud, nomer 2369 dan dishahihkan Al-Albany).

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ شَدَّادَ بْنَ أَوْسٍ بَيْنَمَا هُوَ يَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَقِيعِ، فَمَرَّ عَلَى رَجُلٍ يَحْتَجِمُ بَعْدَ مَا مَضَى مِنَ الشَّهْرِ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ لَيْلَةً، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ" , (أخرجه ابن ماجه، 1681 . وقال الألباني: صحيح لغيره)

Dari Abu Qilabah, dia mengabarkan bahwa tatkala Syaddad bin Aus sedang berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Baqi', beliau melewati seseorang ang sedang meminta bekam, yang saat itu sudah melewati malam delapan belas dari bulan Ramadhan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Orang yang membekam dan yang dibekam harus membatalkan puasanya".(Ditakhrij Ibnu Majah nomer 1681. Menurut Al-Albany, ini hadits shahih ligharihi).

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ أَبِى الأَشْعَثِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَى عَلَى رَجُلٍ بِالْبَقِيعِ وَهُوَ يَحْتَجِمُ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِى لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ فَقَالَ « أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ ». سنن أبي دود باب في الصائم يحتجم, 2/281 وكذلك ابن ماجه والترمذي واحمد وصححه الالباني

Kami diberitahu Musa bin Isma’il, kamidiberitahu Wuhaib, kami diberitahu Ayyub, dari Qilabah, dari Abul-Asy’ats, dari Syaddad bin Aus, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi seseorang di Baqi, ketika orang itu sedang meminta hijamah, sementara beliau memegangi tanganku pada tanggal 18 Ramadhan, seraya bersabda, “Orang yang membekam dan dibekam harus membatalkan puasa.” (Sunan Abu Daud, bab orang yang sedang berpuasa dibekam nomor 2371).

Dalam kitab Syarah Musnad Asy-Syafi’y disebutkan beberapa pengertian dari hadits ini:

  1. Diriwayatkan dari Abul-Asy’ats Ash-Shan’any, karena keduanya melakukan ghibah, sehingga sabda beliau tersebut dimaksudkan bahwa mereka berdua tidak mendapatkan pahala puasa dan bukan berarti puasanya batal.
  2. Maksud sabda beliau, bahwa pasien berpotensi akan batal puasanya karena kondisinya yang lemah. Sedangkan pembekam, karena darah berpotensi masuk ke mulut saat melakukan penyedotan darah.
  3. Beliau melewati keduanya pada sore hari jelang berbuka puasa, sehingga sabda beliau dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa sebenar lagi akan tiba waktu berbuka puasa.
  4. Dengan bekam itu, suatu saat tertentu keduanya dapat membatalkan puasanya.
  5. Sabda beliau, “Orang yang dibekam dan yang dibekam harus membatalkan puasa” terjadi pada tahun terjadinya fathu Makkah. Sedangkan hadits Ibnu Abbas dimana beliau meminta hijamah saat berpuasa terjadi pada saat haji wada’, yang berarti terjadi belakangan. Sehingga apa yang diriwayatkan Ibnu Abbas menghapus hadits “Orang yang dibekam dan yang dibekam harus membatalkan puasa”.

Hadits tentang Nabi Yang Meminta bekam Saat Berpuasa

 

Di sisi lain terdapat hadits yang tampaknya bertentangan dengan hadits di atas bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta bekam justru saat beliau sedang berpuasa. Bahkan jika ditimbang dari faktor kekuatan hadits, justru hadits ini lebih kuat.

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah meminta hijamah ketika beliau sedang berpuasa". (Ditakhrij Al-Bukhary, nomer 1836).

Dalam Shahih Al-Bukhary, hadits nomer 5374 dan Shahih Muslim, hadits nomer 2942, juga disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga meminta hijamah di suatu tempat yang disebut Lahyu Jamal karena sakit migraine yang menimpa beliau. Padahal saat beliau dalam keadaan ihram. Padahal saat ihram tidak boleh mencuku rambut. Hal ini sekedar menggambarkan tentang kelebihan bekam yang mendapatkan prioritas sehingga dapat membolehkan sesuatu yang tadinya dilarang karenanya.

 

 

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ أَيُّوبَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم احْتَجَمَ وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ . (صحيح البخاري كتاب بدء الوحي بَابٌ الَحِجَامَةُ وَالْقَيْءُ لِلصَّائِمِ.حديث رقم 1938)

 

Kami diberitahu Mu’alla bin Asad, kam diberitahu Wuhaib bin Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta hijamah ketika beliau sedang melaksanakan ihram, dan beliau meminta hijamah ketika beliau sedang berpuasa. .” (Shahih Al-Bukhary, Kitab Permulaan turun wahyu, bab hijamah dan muntah bagi orang yang berpuasa, nomer 1938).

 

Penjelasan dan Pemaduan Dua Hadits dalam Kitab Fathul-Bary

Banyak uraian tentang masalah ini di kitab-kitab syuruh dan fiqih. Namun untuk memahami dua hadits di atas yang tampaknya saling bertentangan dan bagaimana pendapat para ulama mengenai hal ini, mari kita cukupkan keterangan pada uraian Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Kitab Fathul-Bary Syarh Al-Bukhary, 4/176-177, sebagai berikut:

Asy-Syafi’y berkata mengenai perbedaan hadits ini, setelah mentakhrij hadits Syaddad dengan lafazh: Kami bersama Rasulullah pada waktu penaklukan Makkah, lalu beliau melihat seorang laki-laki yang dibekam pada tanggal 18 Ramadhan, lalu beliau bersabda sambil memegangi tanganku, “Pembekam dan yang dibekam harus membatalkan puasa.” Kemudian Asy-Syafi’y menyebutkan hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah meminta hijamah ketika beliau sedang berpuasa.

Asy-Syafi’y berkata, “Sanad hadits Ibnu Abbas adalah yang paling baik. Kalaulah seseorang menghindarkan hijamah, maka hal itu lebih aku sukai sebagai langkah kehati-hatian, namun analoginya tetap pada hadits Ibnu Abbas. Yang paling aku ingat dari pendapat para shahabat, tabi’in dan para ulama secara umum bahwa seseorang tidak perlu membatalkan puasa karena hijamah. Saya katakana, di sinilah letak rahasianya mengapa Al-Bukhary menyebutkan hadits Ibnu Abbas ini setelah hadits “Az-Za’farany, bahwa Asy-Syafi’y mengaitkan pendapat bahwa hijamah membatalkan puasa dengan keshahihan hadits ini. At-Tirmidzy menyatakan, Asy-Syafi’y menyampaikan pendapat ini saat berada di Baghdad (pendapat lama). Namun saat berada di Mesir beliau condong kepada rukhshoh, wallohu a’lam.

Sebagian ulama lain menta’wili hadits “Pembekam dan yang dibekam membatalkan puasa”, yang dimaksudkan bahwa keduanya berpotensi dapat batal puasanya karena makan. Takwil dikuatkan dengan perkataan Al-Baghawy dalam Syarhus-Sunnah, bahwa makna “Pembekam dan yang dibekam membatalkan puasa”, artinya berpotensi makan. Sehubungan dengan pembekam, karena dia berpotensi menelan sebagian darah saat menyedot alat bekam. Adapun sehubungan dengan orang yang dibekam, karena kekutan tubuhnya dapat melemah sebagai akibat dari bekam.

Kemudian hadits bahwa Rasulullah meminta hijamah pada saat beliau berpuasa dan melakukan ihram, maka tak dapat diragukan lagi bahwa hadits ini adalah hadits shahih. Ibnu Abdil-Barr dan lain-lainnya mengatakan, “Di sini terkandung dalil bahwa hadits “Pembekam dan yang dibekam membatalkan puasa”, hukumnya mansuukh atau terhapus dan tidak berlaku.

Kesimpulan dan Solusi Bekam Saat Berpuasa

Berikut beberapa cara yang cerdas dan solusi aplikatif tentang berbekam saat berpuasa.

  1. Puasa Ramadhan hukumnya wajib dan bekam hukumnya mubah. Sesuatu yang mubah tidak boleh membatalkan yang wajib. Pelaksanaan bekam yang mubah tidak boleh membatalkan puasa Ramadhan yang wajib.
  2. Bekam menjadi makruh jika dilakukan orang yang jelas-jelas badannya lemah, dan lebih makruh lagi jika kemudian bekam itu membatalkan puasanya, dan tidak makruh bagi orang yang badannya kuat.
  3. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa bekam membatalkan puasa. Namun mayoritas ulama berpendapat tidak batal karena berhujjah dengan hadits Ibnu Abbas, yang dikuatkan dari aspek kekuatan hadits dan masa periwayatan hadits Ibnu Abbas yang lebih belakang sehingga dapat dianggap memansukh hadits Tsauban.
  4. Jika memungkinkan bekam dapat dilaksanakan pada malam hari, maka afdhalnya bekam dilaksanakan pada malam hari.
  5. Pelaksanaan bekam dapat membatalkan puasa ialah ketika pembekam dan/atau pasien memasukkan sesuatu seperti makanan dan/atau minuman ke dalam tubuhnya. Jika tidak, maka puasa tidak batal.
  6. Kondisi pasien yang lemah biasanya disertai dengan muntah. Bagaimana jika pasien muntah saat dibekam? Menurut pendapat Ibnu Juraij, Atha’ dan ‘Amr bin Dinar, muntah tidak membatalkan puasa jika tidak disengaja, dan batal jika disengaja. Maka ketika seorang pasien bekam muntah saat dibekam dan dia berpuasa, maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Yang menjadi pertimbangan batalnya puasa bukan pada apa yang keuar dari mulut tapi apa yang masuk ke mulut.
  7. Kondisi pasien yang lemah biasanya disertai dengan pingsan. Bagaimana jika pasien pingsan? Apakah pingsan membatalkan puasa? Jika pingsan terjadi sepanjang hari dari sebelum sahur hingga waktu berbuka, maka batal puasanya. Jika seseorang pingsan hanya sebagian waktu siang dan dia sadar kembali pada waktu siang, maka puasanya tetap sah. Begitulah menurut pendapat madzhab Asy-Syafi’y dan Ahmad.
  8. Kalaulah bekam tetap harus dilaksanakan saat berpuasa sementara pasien dalam kondisi lemah, maka lakukanlah bekam dengan sedikit titik pada titik-titik utama atau titik-titik Nabawi. Hindari bekam dengan banyak titik.
  9. Bekam tidak membatalkan puasa walau pasien muntah dan pingsan selagi tidak memasukkan sesuatu berupa makanan dan/atau minuman ke mulut, lalu menelannya.
  10. Dalam kondisi yang tidak dikehendaki ketika pasien mengalami sinkope atau bahkan pingsan, maka segera hentikan bekam dan lakukan penanganan sesuai standar kegawatdaruratan untuk pasien sinkope atau pingsan, tanpa memberinya makan atau minum agar tidak membatalkan puasanya.
  11. Kalaulah pasien dalam keadaan lemah fisiknya karena sakit, maka sebenarnya dia sudah mendapatkan rukhshah untuk tidak berpuasa dan dapat menggantinya pada kesempatan lain.

KATHUR SUHARDI

Ketua Majlis Syura

Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI)