•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

Pembekam Kok Sakit?

Boleh jadi pertanyaan ini mewakili minimal lintasan pikiran di benak sebagian orang atau bahkan sekian banyak orang ketika ada info Ustadz Kathur masuk rumah sakit, di ruang intermediate lagi, tepatnya sejak Ahad 16 Desember 2013 lalu. Emang pembekam enggak boleh sakit? Emang dokter enggak bisa sakit? Emangnya seorang dokter spesialis paru enggak bisa terkena pnemonia? Emangnya dokter spesialis jantung enggak bisa terkena angina pectoris? Emangnya seorang ustadz yang mukhlis enggak bisa sakit? Emangnya seorang rasul dan nabi enggak bisa sakit?

Semua orang sudah tahu jawabannya, mereka semua bisa jatuh sakit dan terkena penyakit. Alkisah, hanya satu orang saja di dunia ini yang enggak pernah sakit, yakni Fir’aun, karenanya dia super takabur dan mengaku sebagai tuhan.

Tanggal 12 malam, pk 22.00 Ust. Kathur mendarat di bandara Cengkareng setelah seminggu lebih di Jawa Timur untuk beberapa urusan. Sebenarnya nyeri di dada sudah terasa sejak dua hari sebelumnya. Sambil menunggu sang istri, Usth Aminah mendarat dari Medan, nyeri dada terasa semakin menghebat, bahkan hampir tak tertahankan, nyaris sinkop. Hanya dengan konsentrasi tinggi, rasa nyeri bisa berkurang. Pukul 23.45 Usth Aminah mendarat. Setelah mengurusi kepulangan beberapa akhawat pasukan Usth Aminah dari Medan, seusai muktamar di sana, pk 02.00 dinihari baru dapat meninggalkan bandara. Alhasil malam itu tak tidur sepicing pun. Seusai shalat subuh baru dapat tidur, kira-kira dua jam saja.

Karena nyeri di dada semakin menghebat, Jum’at pagi itu pula ke rumah sakit swasta dekat rumah. Sebelum konsultasi dokter, uji lab sudah dilakukan, lengkap, dan hasilnya bagus semua. Diagnosis dokter paru, bronchtis dan gatritis. Yang pertama mungkin. Tapi yang kedua, tak ada sedikit pun ada gejala gastritis, tak ada nyeri lambung, tak kembung, tak mual. Dua jam di UGD dan setelah mendapatkan obat-obatan yang lumayan mahal, Ust Kathur pulang ke rumah. Nyeri lumayan berkurang. Esoknya, Sabtu 14 Des 2013 Ust Kathur menyempatkan diri datang ke TFT ABI di LPMP di Jakarta Selatan, siang hingga sore. Selepas ashar mengantarkan dr. Agustine ke Pondok Indah. Tiba di rumah malam hari pk 22.00. Biasa, terjebak macet. Esoknya, Ahad 15 Des berangkat ke klinik di Supomo. Dada kadang nyeri kadang nyaman. Masih dapat ditahan. Pk 17.00 hijamah, tiga titik di dada dan dua titik di pundak kiri. Saat dihijamah, nyeri hilang, tapi kemudian muncul lagi. Rasa nyeri begitu cepat menyerang. Shalat maghrib sambil duduk dan hampir-hampir tak kuat. Tak sabar menunggu Mas Rudi yang nyopir, Ust Kathur naik takxi diantar Ustadzah Aminah, ke rumah sakit yang lumayan besar di Bekasi.

Masuk UGD, cepat ditangani dokter jantung, internis, ahli gizi, masuk ruang intermediate, pemeriksaan lab tiap jam, istirahat total, tak boleh turun dari bed, diinfus, dipasang pemantau jantung, echo, EKG lagi, periksa lagi, singkatnya dua hari di intermidiate, kondisi semakin membaik, Rabu 18 Desember masuk ke ruang rawat inap dan Jum’at 20 Desember sudah boleh pulang, dengan catatan harus istirahat total, makan teratur, diit, dll.

Jadi Ust. Kathur sakit apakah?
Ada sedikit pengentalan darah dan mengakibatkan ketegangan di jantung serta ada sebagian anterior jantung yang kurang aktif. Penyebabnya, keletihan dan ketidakseimbangan asupan dengan aktifitas yang dilakukan dan boleh jadi pola makan yang kurang baik. Ada pula penyebab yang cukup dominan, yakni lama tak hijamah. Lho, bagaimana ini? Bukankah ust. Kathur tinggal meminta para terapisnya untuk membekam? Memang di sinilah letak kesalahannya, mengobati dan menghijamah orang lain tapi diri sendiri tak punya waktu untuk dihijamah. Hal ini pula yang diakui Ust. Saifuddin, asisten beliau dan juga para terapis yang lain di Assabil. Sering Ustadz suruh dibawakan alat-alat hijamah untuk dilakukan hijamah di rumah, tapi lagi-lagi tak sempat. Tidak hanya sekali dua kali, tapi banyak kali.

“Dokter,” kata Ust Kathur ke dokter jantungnya, sesaat sebelum keluar dari rumah sakit, “Hai Ahad depan tanggal 22 saya harus ke Bukit Tinggi menjadi narsum seminar tentang Thibb Nabawi bersama beberapa dokter yang lain. Bagaimana Dok?”
“Boleh saja, asalkan bicaranya tidak ngotot, dengan intonasi biasa-biasa saja, tidak boleh terlalu lama, tidak boleh naik naik-turun tangga,” begitu jawab dokter.
“Alhamdulillah.”

Bayangkan saja andaikan dokter memvonis tidak boleh, dijamin panitianya akan kalang kabut. Lalu bagaimana anjuran dokter itu sendiri untuk istirahat total? Allahu Huwasy-Syaafiy.
Pagi ini, Sabtu tanggal 21 Desember 2013 Ust Kathur siap-siap untuk berangkat ke klinik Assabil di Tebet. “Tidak boleh”, kata istri Ustadz dengan garang. “Pokoknya Mas harus istirahat d rumah. Titik. Aku aja yang ke klinik.”
“Tapi....”
“Tidak ada tapi-tapian. Di rumah. Tidur. Istirahat. Tidak ada tawar-menawar. Titik,” kata sang istri dengan tegas.

Waaaah. Gawat juga punya istri yang galak. Bukan ding, bukan galak, tapi istri yang perhatian dan baik. Suer.