•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

Masuk Angin Dalam Pandangan Medis, Fakta dan Mitosnya

Masuk angin dan kerokan

Masuk angin adalah “penyakit” paling terkenal di Indonesia, tidak ada istilah medisnya dan tidak dikenal di dunia kedokteran. Masuk angin sendiri sering didefinisikan sebagai rasa “tidak enak badan” akibat banyaknya angin yang masuk ke dalam tubuh.
Menurut Medis istilah masuk angin ini merupakan kondisi di mana seseorang merasa pegal, kembung, atau perut terasa penuh, sering buang angin, mual, batuk, flu, merasa kedinginan, kadang diserti demam. Karena gejala dan penyebabnya bermacam-macam, cara penanganannya pun beragam.
Cara menangani masuk angin umumnya dengan kerokan. Kata orang-orang supaya anginnya “keluar”. Tetapi..

Sayangnya dari sudut pandang medis, kerokan tidak begitu membantu. Kerokan menyebabkan pori-pori tubuh membuka dan memperlebar. Pada keluhan seperti perut kembung karena telat makan misalnya , kerokan tidak membantu sama sekali, karena intervensinya pada bagian kulit. Sebagai pengobatan masuk angin, kerokan tidak ditemukan dalam standar kedokteran medis. Dicari dulu penyebab dari keluhannya baru diberi penanganan yang sesuai.
Demam ringan adalah yang paling sering kita rasakan ketika masuk angin dan di saat bersamaan kita pilek. Umumnya di karenakan terlalu lama di ruangan ber-AC atau berlama-lama di outdoor/luar ruangan. Kondisi ini sebenarnya adalah awal dari penyakit influenza atau flu atau common cold.
Keluhan sendawa jika badan kita dipijat bisa disebabkan beberapa kemungkinan penyakit. Misal, terjepitnya urat saraf di daerah punggung dekat tulang belikat. atau, kelebihan kadar lemak darah atau trigliserid (hipertrigliseridemia),

Secara medis, kerokan adalah salah satu metode memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup (vasokontiksi) menjadi melebar (vasoditilasi) , jika terus-terusan kerokan, bisa berakibat pecahnya banyak pembuluh darah kecil. Kerokan adalah suatu pengobatan tradisional Jawa dengan cara menekan dan menggeserkan benda tumpul (biasanya uang logam)
Kerokan bisa membawa bakteri dan virus masuk dengan mudahnya dalam tubuh(adanya luka lecet sebagai port d entry). Cara untuk mengatasi gejala masuk angin ini "Kerokan" tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga banyak dilakukan oleh orang-orang di negara-negara asia lainnya, seperti di Vietnam menyebut kerokan sebagai
cao giodi, sedangkan di Kamboja menyebutnya goh kyol, bahkan di China yang terkenal dengan akupunturnya menyebut kerokan dengan gua sua, cuma bedanya orang China memakai batu giok sebagai alat pengerok, bukan kepingan uang logam seperti yang umumnya dipakai di Indonesia.

Kerokan ini pun dipercaya sebagai bukti nyata dalam perwujutan ilmu Einstein (E=MC2) yang menerangkan bahwa energi muncul karena pergesekan dua benda. Jika permukaan tubuh kita digosok-gosokan dengan tangan atau benda tumpul dengan cepat, maka suhu panas dalan tubuh akan meningkat. Karena meningkatnya panas dalam tubuh, maka akan terjadilah perlebaran pembuluh darah sehingga oksigenasi menjadi lebih baik karena peredaran darah kembali lancar dan rasa sakit ditubuhpun mereda.
Saat kita mengerok punggung kita, akan terjadi "Inflamasi". Inflamasi akan menetralisir penyebab sakit dan menghilangkan jaringan yang telah mati sehingga proses penyembuhan menjadi lebih cepat.

Inflamasi memiliki ciri seperti kemerahan pada kulit yang dikerok yang menandakan karena adanya jaringan yang meradang yang mengandung banyak darah akibat pembuluh kapiler yang tadinya kosong karena menyempit telah melebar dan diisi oleh darah. Itulah mengapa saat punggung kita dikerok akan timbul warna kemerahan atau merah kebiruan pada kulit.
Penelitian yang dilakukan oleh dr. Didik Gunawan Tamtomo, terhadap jaringan biopsi kulit sesudah kerokan menunjukkan bahwa tidak terdapat kerusakan kulit, yang ada hanyalah reaksi inflamasi/radang.

Inflamasi/radang adalah reaksi dari suatu jaringan hidup yang mempunyai vaskularisasi (sejenis sistem pembuluh darah) terhadap trauma (injury) lokal dan merupakan suatu proses kompleks meliputi perubahan pembuluh darah, jaringan ikat, dan interaksi berbagai jenis sel. Inflamasi bertujuan untuk menetralisir agen/zat penyebab trauma dan membersihkan jaringan mati, sehingga dapat dicapai penyembuhan dan perbaikan tubuh.
Pada reaksi inflamasi, juga terjadi pengeluaran mediator inflamasi seperti IL-1, TNF, histamin, beta endorfin, dan sebagainya serta penurunan PGE2, bradikinin, dan C3. IL-1 dan TNF berfungsi sebagai petanda bahwa telah terjadi reaksi fase akut, yaitu inflamasi lokal akibat kerokan yang ditandai dengan kemerahan dan panas, selain itu juga mengaktivasi sel-sel darah sehingga sirkulasi darah meningkat. Histamin penting di awal proses inflamasi.

Guru Besar Fakultas Kedokteran di Surabaya menyimpulkan, bahwa kerokan dapat menyebabkan kenaikan kadar beta-endorfin sehingga dapat mengurangi rasa nyeri otot (mialgia) dan mengakibatkan penderita merasa lebih enak dan segar, serta merangsang organ viscera ( organ dalam ), terutama paru-paru dan jantung sehingga penderita bisa bernapas lebih enak dan lega, peredaran darah juga menjadi lebih baik. Kadar PGE2 (Prostaglandin E2) dan bradikinin yang menurun menyebabkan mialgia / nyeri otot berkurang karena kenyataannya, PGE2 merupakan biang kerok penyebab mialgia (nyeri otot). Jika zat PGE2 naik maka akan meningkatkan kepekaan nosiseptor yang disebut sentra sensitisasi, sehingga kita menjadi sensitif terhadap tekanan dan menimbulkan rasa nyeri. Jadi, jika kadar PGE2 bisa diturunkan, maka rasa nyeri tersebut juga akan berkurang. Tinggi rendahnya kadar PGE2 akan mempunyai korelasi dengan berat ringannya mialgia. Bradikinin dan C3 merupakan zat yang dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler.
Beberapa hal yang harus diwaspadai diantaranya adalah, saat terjadi Inflamasi, maka mediator anti Inflamasi akan mengeluarkan "Cytokines" yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Zat ini akan memicu pelepasan Prostaglandin yang menyebabkan kontraksi pada rahim. Oleh sebab itu, bagi ibu-ibu yang sedang hamil sangat dilarang penyembuhan dengan cara dikerok .

Fakta & Mitos Tentang "Masuk Angin"
Kerokan merupakan upaya mengusir "masuk angin" dengan cara meningkatkan panas (calor) akibat sirkulasi darah yang meningkat sehingga memberikan warna kemerahan (rubor), dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit.
Bagi masyarakat awam, kerokan sering dipahami sebagai cara untuk "mengeluarkan angin" dari tubuh lewat pori-pori kulit. Padahal, angin atau udara tidak pernah masuk atau keluar lewat pori-pori kulit. Angin hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.
Setelah kerokan jangan lekas mandi karena setelah kerokan terdapat peningkatan panas yang menyebabkan pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik, kulit dengan lap basah (yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas).