•   Hotline: (62) 8-1234567-266
  •   Info@assabilholyholistic.com

Di Majalah Al-Ahram Al-Araby edisi 218, Mei 2001 dimuat pernyataan Dr. Amir Muhammad Shalih, seorang dosen tamu di Universitas Chicago, sekaligus peraih medali penghargaan di bidang pengobatan alami dan salah seorang anggota pengobatan alternatif Amerika, yang ditujukan kepada orang-orang yang selama ini antipati terhadap metode pengobatan hijamah, “Baca dan perhatikanlah.

Semakin dipikir ternyata sisi ilmiah hijamah semakin rumit. Semakin diselami semakin dalam dan seakan tak kan habis dipelajari. Selalu ada hal baru. Tergantung kita, dapat mengambil pelajaran atau tidak. Satu lagi penelitian Assabil terkini yang perlu dipecahkan. Delapan orang sudah menjadi model penelitian terbaru. Sebelum bekam, dilakukan pengambilan sampel darah intravena. Setelah bekam langsung dilakukan hal yang sama. Yang pertama lancar. Tapi giliran setelah bekam, darah tak bisa diambil. Sama sekali. Setelah dilakukan beberapa cara dan menunggu minimal satu jam, barulah darah intravena pascabekam bisa diambil.


Sebagaimana yang diketahui darah bersirkulasi dari jantung ke seluruh jaringan tubuh. Katup aorta dan arteri pulmonalis yang terbuka pada fase ejeksi sistolik mengakibatkan darah terdorong dari rongga ventrikel jantung sesuai dengan denyut kontraksi jantung. Semakin jauh posisi vaskuler dari jantung maka semakin kecil pulsasi alirannya. Kecepatan aliran darah berbanding terbalik dengan luas penampang total pembuluh darah sehingga semakin distal maka aliran darahnya semakin menurun.

Perbedaan tekanan juga cenderung mendorong cairan darah untuk mengalir dari suatu tempat ke tempat lain karena tekanannya yang lebih rendah. Proses cupping saat bekam menimbulkan tekanan negative pada area yang dibekam sehingga otomatis darah mengalir lebih banyak ke area tersebut dan mengakibatkan hyperemia local.

Sementara tekanan pada vena, biasanya sangat rendah dan bahkan pada daerah vena kava hanya 4-5mm Hg. Beberapa factor yang juga dapat mempengaruhi kecepatan aliran darah vena di antaranya karena efek pompa jantung, tekanan negative rongga toraks, kontraksi otot rangka, dan adanya katup-katup vena pada pembuluh darah vena di bagian bawah jantung. Ini hanya sebagian analisa dari sisi sirkulasi darah.

Team Assabil masih akan melakukan beberapa eksperimen dan beberapa variable tes, masih dalam masalah ini, di antaranya dengan melakukan beberapa variasi posisi dan jumlah titik untuk masing-masing model.

Yang pasti, proses ini mengindikasikan manfaat hijamah yang afdhal, khair dan amtsal sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, efek hijamah yang sistemik sehingga berpengaruh terhadap semua system tubuh, seperti terhadap retikuloendotelial sistem yang bertugas mendaur ulang dan merombak eritrosit yang statis, atau pun efeknya terhadap mononuclear phagocyte system, yang merupakan bagian dari system imun yang terdiri dari sel-sel fagosit berupa monosit dan makrofag. Sistem ini terdapat di hati, limpa, kelenjar limf, jaringan adipose, jaringan ikat dsb. Begitu pula pengaruhnya terhadap sekresi hormon eritropoietin di ginjal. Wa Allahu a’lam bi ash-shawab. Sehingga pengetahuan semacam ini dapat dijadikan landasan penetapan titik-titik bekam untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Ketika berbicara tentang masalah yang sedang kita ketengahkan ini, maka permasalahan pokoknya kembali kepada proses bekam yang mengakibatkan mikroinflamasi dan pelepasan mediator inflamasi dalam darah. Salah satu mediator tersebut adalah A2 yang berfungsi mengaktifkan trombosit dan memicu terjadinya hyperactivity trombosit, sehingga trauma pada pembuluh darah cepat mengaktifkan system pembekuan darah, termasuk pada ujung jarum spuit ketika dilakukan injeksi sesaat pascabekam karena efek sistemik dari bekam. Artinya, kejadian ini berlangsung di seluruh vena walaupun titik bekamnya di punggung dan bukan di tangan yang dari sana diambil sampel darah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sekali lagi, siapa bilang bekam hanya sebatas pekerjaan ngekop sono ngekop sini? Sama sekali tidak. Sebagai buktinya adalah kasus ini. Awalnya kami semua kebingungan, mengapa begitu. Akhirnya kami memberanikan diri menganaisisnya. Sebab setelah kami menelusur ke berbagai jurnal tentang hijamah, kami tak mendapatkan kasus seperti ini, apalagi pemecahannya.

Yang ilmu bekamnya masih sebatas main kop, hayo terus belajar. Ternyata kita semua masih bodoh. Tapi jauh lebih baik merasa bodoh dan dapat mengukur kebodohannya, lalu bangkit keluar dari kebodohannya. Minimal baca yang ini, mengkritisi, kasiih masukan, berbagi ilmu, mengoreksi atau kasih komen yang membangun. Ditunggu.

Munculnya gelembung-gelembung blister di kulit pada saat bekam seperti pada gambar di atas, secara umum sebagai akibat dari MALPRAKTIK BEKAM atau MALBEKAM. Sementara sebab khususnya sebagai akibat dari beberapa hal:


  1. Waktu pengekopan terlalu lama, yang mengakibatkan akumulasi peningkatan calor di area kulit yang disedot, efek dari inflamatif
  2. Akumulasi dari pengekopan yang berkali-kali walau mungkin jangka waktu satu kali pengekopan tidak terlalu lama
  3. Pengekopan yang terlalu keras, dan biasanya ditandai dengan perubahan warna kulit yang lebih hitam kecoklatan
  4. Konsentrasi cairan yang kemungkinan berupa eksudat atau extracell atau yang lainnya di area pengekopan.
  5. Titik bekam terlalu banyak dalam waktu bersamaan dan dilakukan secara sekaligus.

Komentar lain:

  1. Kalaulah titik ini pada posisi kahil, maka sebaiknya arah insisi dari atas ke bawah, lurus.
  2. Insisi relative panjang dan pinggiran insisi kasar. Sebaiknya insisi pendek-pendek saja, sekitar 0.5 cm
  3. Insisi di bagian atas tampak lumayan bagus dari segi kedalaman. Tapi beberapa insisi di bagian bawah tampak lebih dalam

Saran:

  1. Sebaiknya pembekam selalu berada di dekat pasien dan tidak meninggalkannya.
  2. Tidak menggunakan gelas kop yang sudah pudar
  3. Blister tidak muncul seketika menjadi banyak atau membesar, tapi dari kecil terlebih dahulu, lalu menjadi banyak atau membesar. Lama-kelamaan dari beberapa blister yang kecil akan menyatu dan menjadi besar.
  4. Jika pembekam melihat satu blister yang kecil di kulit yang dibekam saat proses pembekaman, maka dia harus langsung menghentikannya.
  5. Jika poin 1 – 4 diperhatikan pembekam, insya Allah tidak akan muncul banyak blister seperti tampak pada gambar di atas.
  6. Keluarkan cairan blister dengan menusukkan lancet posisi miring dan bukan poisisi menghadap lurus ke kulit, karena dapat melukai kulit, dan jangan merobek lapisan kulit stratum corneum.
  7. Setelah ditusuk, tekan blister menggunakan kassa steril untuk mengeluarkan cairan, lalu teteskan antiseptic.
  8. Mayoritas pembekam yang tidak pernah mendapatkan pembelajaran bekam yang baik dari LKP atau institusi bekam, yang steril, profesional dan memiliki izin legal, membiarkan blister tersebut tanpa penanganan seperti pada poin kelima.

Kesimpulan:

  1. Ustadz Kathur Suhardi dan Ustadzah Aminah sudah melakukan eksperimen sehubungan dengan blister ini sejak 2004. Eksperimen ini juga sekaligus untuk mematahkan klaim dari sebagian pembekam yang mengatakan bahwa blister ini diakibatkan oleh “Adanya blister (lepuhan/lecat) pada bekas bekam, menggambarkan kondisi gangguan gas yang parah pada tubuh. Adanya darah tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin”.
  2. Komentar dan pendapat ini merupakan hasil ijtihad, bisa salah dan bisa benar. Jadi masih memungkinkan dibuka ruang diskusi yang sehat dan ilmiah.
  3. Kalaulah hasil ijtihad ini benar, kami bermaksud memberikan pembelajaran yang baik dan sehat tentang hijamah yang bermartabat kepada para setiap pembekam dan juga para pasien bekam
  4. Orang pertama yang menanggung resiko dan efek negative tentang blister ini adalah pasien bekam. Karena bekam yang baik tentu tidak akan memunculkan blister.

Login Anggota